Pages

1/22/2011

Teater Abad Pertengahan

Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Khatolik atas drama sangat besar pada zaman Pertengahan ini. Dalam pementasan ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan Koor. Kemudian ada pelanggan “Pasio” seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini.’
Ciri-ciri khas theater abad Pertengahan, adalah sebagai berikut :
1. Pentas Kereta.
2. Dekor bersifat sederhana dan simbolik.
3. Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.

Zaman Italia
Istilah yang populer dalam zaman Italia adalah Comedia Del’arie yang bersumber dari komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain: Date, dengan karya-karyanya: The Divina Comedy Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan pastoral dan Niccolo Machiavelli dengan karya-karyanya Mandrake.
Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut :
a. Improvitoris atau tanpa naskah.
b. Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru kemudian pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia).
c. Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
d. Gejala akting pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.

Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu. Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada zaman Elizabeth.
Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth, adalah:
a. Naskah Puitis.
b. Dialognya panjang-panjang.
c. Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
d. Lakon bersifat simultan, berganda dan rangkap.
e. Campuran antara drama dengan humor.
2.5. Perancis : Molere dan Neoklasikisme
Tokoh-tokoh drama di Prancis antara lain Pierre Corneile (1606-1684, dengan karya-karya: Melite, Le Cid), Jean Racine (1639-1699, dengan karya: Phedra).

Jerman: Zaman Romantik
Tokoh-tokoh antara lain: Gotthold Ephrairn Lessing (1729-1781, dengan karya Emilla Galott, Miss Sara Sampson, dan Nathan der Weise), Wolfg Von Goethe (1749-1832, dengan karya: Faust, yang difilmkan menjadi Faust and the Devil), Christhoper Frederich von Schiller (1759-1805, dengan karya: The Robbers, Love and Intrigue, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dan Shakespeare).

TEATER DALAM HIDUPNYA

Dalam sejarah pertunjukan, teater tradisional Indonesia memiliki tradisi yang kuat dalam banyak hal. Ia (teater tradisional) memiliki kesadaran terhadap segala aspek dalam masyarakat karena ia memang tumbuh dari lingkungannya. Dari sebuah kebutuhan dan kesadaran kosmos (alam/ semesta). Proses merupakan inti darinya. Percaya pada proses dan terus berproses. Setiap hari lahir karya, sehingga segalanya akan terus menjadi baru dan aktual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, dan interpretasi.
Dalam hidupnya ia tidak mengenal argumentasi, sebab teater tradisional tidak melakukan diskusi, mereka melakukan meditasi, bicara tanpa kata-kata. Karena teater selalu berkaitan dengan 3 hal, yaitu tempat, waktu, dan suasana maka peristiwa yang terjadi merupakan peristiwa yang terus menerus memberikan apresiasi dari yang dapat dicerap. Ia merupakan peristiwa spiritual. Peristiwa kejiwaan. Yang dimiliki para pelaku dan penonton. Peristiwa tersebut menjadi sebuah pengalaman spiritual penonton. Sebuah upacara mencari jatidiri manusia.
Mereka tidak sekedar memberikan pertunjukan, Mereka membuat tontonan untuk keseimbangan kosmologis. Teater tradisional adalah sebuah upacara bersama. Sebuah ritual. Sebuah keniscayaan manusiawi.
Kelompok teater adalah komunitas spiritual. Teater bukan hanya sekedar hubungan kerja, tetapi pengabdian. Sebagai tempat untuk menemukan diri. Ia menjadi tempat belajar penghuninya. Didalamnya pemantapan sikap dan kepribadian dilakukan. Sehingga nanti mampu menyampaikan suara, opini, dan gagasan untuk fenomena social-politik bahkan spiritual.
Kelompok teater bukan hanya sebuah organisasi pementasan. Tempat menyelenggarakan sebuah pertunjukan. Tempat mencari uang, karena sampai saat ini ia tidak dapat dijadikan sebuah profesi. Ia menjadi sebuah kubu perjuangan, yang tidak melulu berbincang sekitar masalah-masalah artistik tetapi juga sebagai pilihan sikap politik, opini, dan ideologis. Ia menjadi sebuah media dialog dalam orientasi budaya, panutan hidup, perilaku, bahkan latar belakang social-politik dan reformasi estetika, dari seorang pemikir yang memikirkan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih benar, dan lebih layak.
Teater bukan lagi sekedar pertunjukan hiburan, dengan kreasi-kreasi artstik. Teater adalah sebuah komunitas spiritual. Sebuah ritual untuk menyeimbangkan kosmos/ alam. Mikro dan makro (diri dan semesta).

Rumusan Teater

RUMUSAN TEATER
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujutkan dalam suatu karya seni suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.
Dari rumusan diatas dapt ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur teater menurut urutannya adalah sebabagai berikut :
1.Tubuh, manusia sebagai unsur utama ( pemeran/pelaku/pemain)
2.Gerak, sebagai unsur penunjang.
3.Suara, sebagai unsur penunjang ( kata/untuk acuan pemeran)
4.Bunyi, sebagai unsur penunjang ( bunyi benda,efek dan musik).
5.Rupa sebagai unsur penunjang ( cahaya, rias dan kostum.).
6.Lakon sebagai unsur penjalin ( cerita,non cerita,fiksi dan narasi ).

Drama Klasik dan Sejarahnya

Drama Klasik
Yang disebut drama klasik adalah drama yang hidup pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.
a. Zaman Yunani.
Asal mula drama adalah Kulrus Dyonisius. Pada waktu itu drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada Dewa Domba/Lembu. Sebelum pementasan drama, dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang disebut “tragedi”. Dalam perkembangannya, Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang, berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Komedi sebagai lawan dari kata tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia.
Ada 3 tokoh Yunani yang terkenal, yaitu: Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut Plato, keindahan bersifat relatif. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi itu menurut Plato bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan. Karya Plato yang terkenal adalah The Republic.
Aristoteles juga tokoh Yunani yang terkenal. Ia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik, tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebijakan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak yang menentu.
Sophocles adalah tokoh drama terbesar zaman Yunani. Tiga karya yang merupakan tragedi, bersifat abadi, dan temanya Relevan sampai saat ini. Dramanya itu adalah: “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus”, dan “Antigone”. Tragedi tentang nasib manusia yang mengenaskan.
Tokoh Lain yang dipandang tokoh pemula drama Yunani adalah Aeschylus, dengan karya-karyanya: “Agamenon”, “The Choephori”, “The Eumides”. Euripides yang hidup antara 485-306 SM, merupakan tokoh tragedi, seperti halnya Aeschylus. Karya-karya Euripides adalah: Electra, Medea, Hippolytus, The Troyan Woman dan Iphigenia in Aulis.
Jika Aeschylus, Sophocles, dan Euripides merupakan tokoh strategi, maka dalam hal komedi ini mengenal tokoh Aristophanes. Karya-karyanya adalah : The Frogs, The Waps, dan The Clouds.
Bentuk Stragedi Klasik, dengan ciri-ciri tragedi Yunani adalah sebagai berikut :
1. Lakon tidak selalu diakhiri dengan kematian tokoh utama atau tokoh protagonis.
2. Lamanya Lakon kurang dari satu jam.
3. Koor sebagai selingan dan pengiring sangat berperan (berupa nyanyian rakyat atau pujian)
4. Tujuan pementasan sebagai Katarsis atau penyuci jiwa melalui kasih dan rasa takut.
5. Lakon biasanya terdiri atas 3-5 bagian, yang diselingi Koor (stasima). Kelompok Koor
biasanya keluar paling akhir (exodus).
6. Menggunakan Prolog yang cukup panjang.
Bentuk pentas pada zaman Yunani berupa pentas terbuka yang berada di ketinggian. Dikelilingi tempat duduk penonton yang melingkari bukit, tempat pentas berada di tengah-tengah. Drama Yunani merupakan ekspresi religius dalam upacara yang bersifat religius pula.
Bentuk Komedi, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Komedi tidak mengikuti satire individu maupun satire politis.
2. Peranan aktor dalam komedi tidak begitu menonjol;
3. Kisah lakon dititikberatkan pada kisah cinta, yaitu pengejaran gadis oleh pria yang cintanya
ditolak orang tua/famili sang gadis.
4. Tidak digunakan Stock character, yang biasanya memberikan kejutan.
5. Lakon menunjukan ciri kebijaksanaan, karena pengarangnya melarat dan menderita, tetapi
kadang-kadang juga berisi sindiran dan sikap yang pasrah.
b. Zaman Romawi
Terdapat tiga tokoh drama Romawi Kuno, Yaitu: Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Senece. Teater Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius, lama-kelamaan bersifat mencari uang (show biz). Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.

TEATER SEBAGAI ORGANISASI

Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; di mana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapi,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti hal nya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (panitia produksi) maupun segi seni-seninya (penyutradaraan, penataan set, permainan, musik dan unsur-unsur lain).
Berikut ini contoh elemen dari sebuah grup teater dalam mengadakan sebuah produksi.
- Pimpinan Produksi
- Sekretaris Produksi
- Keungan Produksi / Bendahara
- Urusan Dokumentasi
- Urusan Publikasi
- Urusan Pendanaan
- Urusan Ticketing atau karcis
- Urusan Kesejahteraan
- Urusan Perlengkapan
- Sutradara
- Art Director / Pimpinan Artistik
- Stage Manager
- Property Master
- Penata Cahaya
- Penata Kostum
- Penata setting
- Perias / Make Uper
- Penata Cahaya
- Penata Musik
Setiap elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai contoh seorang urusan pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggung jawab atas pola permainan panggung; (akting pemain, cahaya, bunyi-bunyian, set, property dan lain-lain).
Jikalau kita memandang elemen dalam grup teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”.

Perbedaan Teater dan Drama

Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai ‘dran’ yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.

Drama dan Teater

Kata Drama berasal dari bahasa Yunani "Draomai" yang berarti berbuat, berlaku dan bertindak. Jadi Drama dapat diartikan perbuatan atau tindakan.

ARTI DRAMA
Arti pertama dari drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
ARTI TEATER
Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara etimologi (asal kata), teater adalah gedung pertunjukan (auditorium).
Dalam arti luas teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, ludruk, lenong, reog, dulmuluk.
Dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

Ducati Rela Berbagi Warna Demi Rossi



Ducati Desmosedici GP11, yang akan dikendarai Valentino Rossi dan Nicky Hayden pada MotoGP 2011, sudah diluncurkan pada Rabu (12/1/11) malam waktu Italia. Seperti biasa, Rossi tetap memasukkan warna "keramat"nya, kuning.
Ya, warna pada motor Rossi tidak seperti yang dipakai Hayden. Meskipun tetap didominasi merah dan putih, yang sudah menjadi ciri khas motor Ducati, tetapi "The Doctor" tak ingin warna kuning dihilangkan, termasuk untuk nomor 46.
Dalam desain baru ini juga ada sedikit perubahan. Di samping warna kuning (sedangkan milik Hayden berwarna hitam), tulisan "Ducati" di sisi motor pun dibikin lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu.
Musim 2011 ini, tim Ducati menjadi pusat perhatian menyusul keputusan Rossi meninggalkan Yamaha dan bergabung dengan mereka. Di sini pula, pebalap Italia tersebut menatap rekor baru karena jika menjadi juara dunia, maka dia akan tercatat sebagai pebalap pertama yang merengkuh trofi kelas paling bergengsi tersebut bersama tiga tim pabrikan yang berbeda.
Sebelum memasuki tahun ke-12 kariernya di kelas premier ini, Rossi pernah memperkuat dua asal Italia, yaitu Honda dan Yamaha.  Selama kurun waktu tersebut, pebalap berusia 31 tahun ini merengkuh tujuh gelar juara dunia.
Sedangkan bagi Hayden, musim 2011 akan menjadi tahun ketiganya bersama Ducati. Bersama tim Italia ini, Hayden belum menunjukkan sinar terangnya seperti ketika jadi juara dunia 2006 bersama Honda.
sumber : crashnet

Ducati Semakin yakin menatap musim MotoGP 2011


Tim berkelir merah itu telah menyelesaikan pengujian secara private selama tiga hari di sirkuit Jerez, Spanyol pada Minggu ini. Manajer tim Ducati Vittoriano Guareschi langsung turun tangan dalam sesi pengujian tersebut, dengan menungangi langsung motor Ducati Desmosedici GP11 dan dibantu oleh pembalap tester Ducati Franco Battaini.
Meskipun tim memperhitungkan juga perbedaan cuaca serta kondisi trek antara Jerez dan Sepang, menurut bos Ducati Filippo Preziosi, Ducati telah membuat langkah-langkah maju dalam rangka kesiapannya kali pertamanya Valentino Rossi menunggangi motor Ducati Desmosedici GP11 lengkap dengan livery merah khas tim yang berpusat di Borgo Panigale ini.
"Kami beruntung karena kondisi cuaca sangat memungkinkan kita untuk melakukan pengujian selama tiga hari penuh. Kami mengidentifikasi dua konfigurasi setup," kata manajer tim Ducati Vittoriano Guareschi, seperti dikutip "Crash".
"Bersama Franco, kami menemukan beberapa solusi yang menarik untuk kedua kendali anti-wheelie dan kontrol traksi. Kami semua merasa puas dengan pekerjaan yang telah dilakukan, meskipun kita menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan solusi teknis yang mencoba jalur yang berbeda dan dalam kondisi yang berbeda dibandingkan dengan Sepang," tambahnya.
Di sesi pengujian yang berlangsung di sirkuit Jerez, Spanyol antara Battaini dan Guareschi, total jumlah putaraan sebanyak 151 putaran selama tiga hari pengujian.
 

Blogger news

Blogroll

About